Chapter 1 : Flight to Korea
Dipandanginya langit nan biru dihiasi awan putih nan cantik.
Pemandangan yang terlihat begitu dekat yang seakan-akan bisa disentuh hanya
dengan mengulurkan tangannya. Sesekali dia memalingkan wajahnya ke selembar
foto yang terlukis wajah dirinya beserta kedua sahabatnya. Tanpa Eris sadari
air matanya jatuh menetesi foto yang dipegangnya. Air mata yang jatuh
menandakan betapa dia mencintai kampung halamannya dan kedua sahabat karibnya.
Eris harus meninggalkan Indonesia tercinta menuju Korea yang digelari negeri
ginseng karena ayahnya dipindah tugaskan disana.
"Eris gak papa?" tegur ibunya yang sedari tadi
diam-diam memperhatikan Eris. Ibunya sangat mengerti bagaimana perasaan anaknya
saat ini.
"Gak papa kok ma" jawab Eris seraya mengusap air
matanya. Eris memalingkan wajahnya ke arah jendela. Menyenderkan bahunya ke
sandaran dengan memeluk erat foto yang sedari tadi dipegangnya. Eris berusaha
memejamkan matanya yang masih saja menitikkan air mata. Dengan pelan ibunya
menyelimuti tubuhnya. Ibunya mengusap rambut gadis 18 tahun itu. Eris merasakan
sentuhan lembut ibunya yang membuat perasaannya sedikit membaik. Eris pun
tertidur dengan lelap sampai akhirnya pesawat mendarat di bandara Incheon yang
merupakan bandara kebanggaan Korea.
Eris dan ibunya menghampiri seseorang yang melambaikan
tangannya. Ayahnya yang sengaja meminta izin libur untuk menyambut kedatangan
orang terkasihnya. Eris memeluk ayahnya yang sudah 2 bulan berada di Korea.
Sang ayah menyambut pelukan anaknya dengan penuh sukacita. Bibir Eris pun
merekah dengan senyuman. Sepertinya perasaan Eris sudah membaik. Ibunya yang
tadinya hanya diam ikut-ikutan memeluk kedua ayah dan anak itu. Dengan memegang
tangan kedua orang tuanya mereka berjalan menuju mobil yang akan mengantarkan
Eris ke tempat tinggal barunya.
***
Eris yang duduk sendiri di jok belakang tak henti-henti
mengangakan mulutnya yang begitu terkagum dengan keindahan negeri ginseng itu.
Selain itu Eris kadang bertanya kepada ayahnya jika dia melihat sesuatu yang
begitu ingin diketahuinya. Kedua orang tuanya hanya bisa tersenyum melihat
kelakuan putri mereka satu-satunya.
Tak sampai 30 menit mereka sudah tiba di pelataran parkiran
sebuah apartement yang menjulang tinggi. Eris membuka pintu mobil dengan wajah
yang begitu gembira. Dia menuju lobi apartement. Matanya terbelalak melihat
keindahan interior apartement itu. Dengan perasaan ingin tahu yang besar Eris
melangkahkan kakinya mengelilingi kawasan apartemen itu. Tiba-tiba raut mukanya
berubah merah. Betapa malunya dia saat dia tak sengaja masuk ke toilet pria.
Eris begitu panik tak tau harus berbuat apa dan tiba-tiba Eris merasa tak dapat
melihat apa-apa. Matanya tertutup oleh sesuatu dan tubuhnya bergerak menjauhi
tempat itu. Saat Eris membuka matanya dia sudah berdiri di tengah lobi
apartemen. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Di putarnya kedua bola
matanya. Tak ada seorang pun yang berkeliaran hanya ada seorang satpam yang
berdiri di depan pintu masuk. Eris merogoh kantong celana jinsnya. Dia
mengeluarkan handponenya. Dipencetnya nomor ibunya.
"Mama dimana?" tanya Eris dengan perasaan gugup
"Mama sudah di kamar apartement kita. Eris dimana
sekarang?" tanya ibunya sedikit cemas.
"Eris di lobi. Eris kesana sekarang" ucap Eris
sambil berjalan menuju lift.
Eris menekan tombol angka 11 dimana kamar apartemennya
berada. Di dalam lift Eris masih memikirkan apa yang baru saja menimpanya. Apa yang terjadi? pertanyaan itu terus
berputar di benaknya. Tiba-tiba pintu lift terbuka di lantai 9. Seorang cowok
Korea masuk. Eris memalingkan matanya menuju cowok itu. Wa, cool batinya berkata. Matanya tak berkedip melihat cowok itu.
Cowok itu berdiri di sampingnya. Eris menundukkan wajahnya. Suasana di dalam
lift begitu sunyi sampai akhirnya cowok itu membuka mulutnya.
"What are you doing in men's toilet?" ucap cowok
itu
Mendengar ucapan itu Eris menegakkan kepalanya terkejut.
Wajahnya kembali memerah ketika mengingat kembali kejadian itu. Eris tak dapat
berkata apa-apa. Tubuhnya kaku seperti batangan es. Pintu lift terbuka.
Dilihatnya angka 11. Tanpa pikir panjang Eris melangkahkan kakinya keluar dari
lift itu. Dengan seketika dia berada di depan pintu lift. Dilihatnya cowok itu
sedikit tersenyum di balik pintu lift yang menutup perlahan.
Eris menekan bel apartemen dimana ayah dan ibunya sudah
menunggu. Setelah pintu terbuka Eris masuk dengan tergesah-gesah seraya
menutupi mukanya dengan jilbab warna merah yang semerah pipinya. Dia langsung
menuju toilet. Dibasuhnya mukanya. Eris menatap wajahnya di kaca dan kembali
kejadian itu muncul kembali di otaknya. Dibasuhnya kembali mukanya. Eris pun
keluar dari toilet setelah sekitar 15 menit berkutat di dalamnya. Dia keluar
dengan jilbab yang hampir basah keseluruhan karenan air yang membasuh wajahnya.
Hal itu membuat kedua orang tuanya sentak kaget. Tak tahu apa yang membuat
anaknya menjadi seperti ini di hari pertamanya di Korea. Raut muka kedua
orangnya menunjukkan kekhawatiran terhadap Eris. Mereka membiarkan Eris masuk
ke kamarnya dulu untuk menenangkan diri dan untuk berganti pakaian tentunya.
"Kita akan dinner di luar" ucap ayah Eris ketika
gadis itu keluar dari kamarnya. Dengan wajah yang lusuh dan mengucek matanya
yang belum sepenuhnya terbuka Eris berusaha menelaah perkataan ayahnya itu. Dinner? ucapnya pelan. Eris kembali ke
kamarnya untuk mengambil tas sakunya. Dia memasukan dompet, handpone lengkap
dengan headset serta sebuah digital camera sebagai benda yang mesti dibawa.
Eris sangat suka memotret terutama pemandangan. Mengabadikan sesuatu yang indah
membuatnya merasa telah memenuhi kebutuhan jiwanya. Eris menuju ke parkiran
mobil dimana kedua orang tuanya telah menunggunya. Di bukanya pintu mobil dan
masuk ke dalam mobil. "Ayo pa" ucapnya seraya memalingkan
pandangannya menuju ke arah depan. Dan betapa kagetnya dia saat melihat bukan
ayahnya yang duduk di bangku pengemudi. Dua pasang mata menatapnya dengan
pandangan bertanya-tanya.
"Sorry, I get in the wrong car" ucapnya dengan
terbata. Eris keluar dari mobil itu. Dan seketika mereka tertawa melihat Eris
yang berlari secepat kilat menuju mobil ayahnya.
"Ah, ada apa denganku?" keluhnya. Untuk kedua
kalinya di hari yang sama dia mempermalukan dirinya sendiri. Eris serasa ingin
melepaskan wajahnya dan melemparnya ke tong sampah. Betapa memalukan hal itu.
Eris membuka pintu mobil dengan raut muka yang masih merah itu. Kedua orang
tuanya hanya bisa saling berpandangan melihat Eris. Mereka beranjak dari tempat
itu menuju ke tempat mereka akan dinner.
Selama di perjalanan tak sepatah katapun keluar dari mulut
gadis itu. Kamera yang dibawanya pun menganggur di dalam tasnya. Tak satupun
yang terekam dalam memory card kamera itu. Tiba-tiba hpnya berdering membuat
lamunannya buyar. Eris membuka tas biru dongker miliknya. Dibukanya sms yang
diterima alat komunikasi itu.
Mama pengen liat anak
mama seneng malam ini, sepenggal kata yang tertulis di layar hpnya yang
membuatnya tersenyum kecil.
"Gitu dong" ucap ayahnya yang sedari tadi sibuk
mengemudikan mobil. Seketika keheningan terpecahkan oleh sedikit tawa kecil
mereka bertiga.
Mereka pun tiba di restaurant dengan interior yang unik dan
mengagumkan. Eris mulai mengeluarkan kameranya untuk mengabadikan malam itu
yang membuatnya sejenak melupakan kejadian yang dia alami. Eris dan orang
tuanya menikmati makan malam itu dengan dibarengi senda gurau diantara keluarga
kecil itu. Mereka juga membicarakan tentang sekolah baru yang akan menjadi
tempat Eris menimbah ilmu.
***
Seusai makan mereka kembali ke apartemen. Eris begitu senang
malam itu. Kedua orang tuanya langsung menuju kamar untuk beristirahat. Eris
pun begitu. Tapi saat dia hendak memejamkan matanya Eris teringat perkataan
ayahnya mengenai sekolah barunya. Dengan mata terbelalak pikirannya simpang
siur. Eris terus memikirkan apa dia akan diterima, apakah dia akan mempunyai
teman baik seperti Mia dan Rizka sahabatnya di Indonesia. Pertanyaan itu terus
muncul dibenaknya yang membuatnya tidak bisa tidur. Tiba-tiba dia teringat
sebuah taman kecil yang dilihatnya sewaktu mengelilingi apartemen. Eris pun
melangkahkan kakinya keluar kamar sambil menarik sebuah jaket untuk
melindunginya dari suhu dingin Korea. Eris menuruni lift. Tak seorangpun yang
berlalu lalang karena sudah larut malam. Namun, tak sidikitpun rasa takut
menghampirinya tidak seperti di rumahnya dulu yang dapat membuat bulu kuduknya
berdiri kaku jika sudah larut malam sehingga Eris tak pernah berani keluar
walaupun dia tidak bisa tidur. Eris menuju taman kecil yang dihiasi kerlap
kerlip lampu nan cantik. Eris melihat ayunan yang berada di tengah taman itu.
Dia pun duduk sambil berayun-ayun kecil. Eris menyalakan kamera yang sempat
diambilnya sewaktu hendak keluar tadi. Eris melihat foto-foto dirinya dan
sahabatnya. Halaman demi halaman dari foto itu dilihatnya yang membuatnya
tersenyum. Melihat pemandangan yang begitu indah malam itu Eris pun memasang
kuda-kuda untuk siap memotret. Saat Eris hendak memencet tombol capture
tiba-tiba terekam seseorang dilayar kameranya yang membuatnya terkejut dan
terjatuh dari ayunan itu. "Aw" Eris
mengerang kesakitan. Kemudian uluran tangan orang yang membuatnya terkejut
membantunya berdiri kembali.
"Sorry" ucap cowok itu
"Ah, you" ucap Eris terkejut melihat orang yang
berada di hadapannya yang ternyata adalah cowok yang menjadi saksi kejadian
memalukan yang dia alami hari ini. Cowok itu hanya tersenyum dan melangkahkan
kakinya untuk duduk di ayunan itu. Eris berdiri membatu tak tau harus berbuat
apa.
"I'm Min Woo" ucap cowok itu memperkenalkan
dirinya seraya mengulurkan tangannya
Eris hanya mengangguk dan tak mengacuhkan uluran tangan Min
Woo yang membuatnya harus menarik kembali tangannya.
"Why didn't you sit?" tanyanya pada Eris yang
sedari tadi hanya berdiri disamping ayunan itu.
Eris pun duduk kembali di ayunan yang di dudukinya
sebelumnya. Min Woo memalingkan pandangannya ke Eris yang hanya diam terpaku.
Min Woo melihat Eris yang memakai jilbab itu sedikit terpanah. Dia belum pernah
melihat orang dengan pakaian seperti itu dengan matanya sendiri.
"Are you new here?" ucapnya untuk mencairkan
suasana yang begitu sunyi
"Yes" jawab Eris singkat
"Ah. where are you from?" tanyanya kembali
"Jakarta-Indonesia" kembali Eris menjawab
"Indonesia is South East Asia, right?" ucapnya
ragu
"Yes" jawab Eris singkat
Karena malam semakin larut Eris tidak melanjutkan percakapan
itu. Eris beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju apartemen.
Saat yang bersamaan Min Woo berteriak menanyakan namanya yang belum disebutkan
Eris saat mereka mengobrol.
"Just call me Eris" jawab Eris yang hanya
memalingkan wajahnya. Eris seketika sudah berada di depan lift yang siap menuju
kamar apartemennya. Kali ini wajahnya sedikit memerah karena begitu senangnya
dia malam ini. Eris membuka pintu dengan perlahan takut kalau orang tuanya
terbangun. Dia pun membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang siap membawanya
ke alam mimpi. Eris tidur dengan nyenyak dengan sesekali menarik selimutnya
karena begitu dinginnya malam itu.