Rabu, 12 September 2012

Negeri Ginseng Saksi Bisuku

Chapter 1 : Flight to Korea

Dipandanginya langit nan biru dihiasi awan putih nan cantik. Pemandangan yang terlihat begitu dekat yang seakan-akan bisa disentuh hanya dengan mengulurkan tangannya. Sesekali dia memalingkan wajahnya ke selembar foto yang terlukis wajah dirinya beserta kedua sahabatnya. Tanpa Eris sadari air matanya jatuh menetesi foto yang dipegangnya. Air mata yang jatuh menandakan betapa dia mencintai kampung halamannya dan kedua sahabat karibnya. Eris harus meninggalkan Indonesia tercinta menuju Korea yang digelari negeri ginseng karena ayahnya dipindah tugaskan disana.
"Eris gak papa?" tegur ibunya yang sedari tadi diam-diam memperhatikan Eris. Ibunya sangat mengerti bagaimana perasaan anaknya saat ini.
"Gak papa kok ma" jawab Eris seraya mengusap air matanya. Eris memalingkan wajahnya ke arah jendela. Menyenderkan bahunya ke sandaran dengan memeluk erat foto yang sedari tadi dipegangnya. Eris berusaha memejamkan matanya yang masih saja menitikkan air mata. Dengan pelan ibunya menyelimuti tubuhnya. Ibunya mengusap rambut gadis 18 tahun itu. Eris merasakan sentuhan lembut ibunya yang membuat perasaannya sedikit membaik. Eris pun tertidur dengan lelap sampai akhirnya pesawat mendarat di bandara Incheon yang merupakan bandara kebanggaan Korea.
Eris dan ibunya menghampiri seseorang yang melambaikan tangannya. Ayahnya yang sengaja meminta izin libur untuk menyambut kedatangan orang terkasihnya. Eris memeluk ayahnya yang sudah 2 bulan berada di Korea. Sang ayah menyambut pelukan anaknya dengan penuh sukacita. Bibir Eris pun merekah dengan senyuman. Sepertinya perasaan Eris sudah membaik. Ibunya yang tadinya hanya diam ikut-ikutan memeluk kedua ayah dan anak itu. Dengan memegang tangan kedua orang tuanya mereka berjalan menuju mobil yang akan mengantarkan Eris ke tempat tinggal barunya. 

***
Eris yang duduk sendiri di jok belakang tak henti-henti mengangakan mulutnya yang begitu terkagum dengan keindahan negeri ginseng itu. Selain itu Eris kadang bertanya kepada ayahnya jika dia melihat sesuatu yang begitu ingin diketahuinya. Kedua orang tuanya hanya bisa tersenyum melihat kelakuan putri mereka satu-satunya.
Tak sampai 30 menit mereka sudah tiba di pelataran parkiran sebuah apartement yang menjulang tinggi. Eris membuka pintu mobil dengan wajah yang begitu gembira. Dia menuju lobi apartement. Matanya terbelalak melihat keindahan interior apartement itu. Dengan perasaan ingin tahu yang besar Eris melangkahkan kakinya mengelilingi kawasan apartemen itu. Tiba-tiba raut mukanya berubah merah. Betapa malunya dia saat dia tak sengaja masuk ke toilet pria. Eris begitu panik tak tau harus berbuat apa dan tiba-tiba Eris merasa tak dapat melihat apa-apa. Matanya tertutup oleh sesuatu dan tubuhnya bergerak menjauhi tempat itu. Saat Eris membuka matanya dia sudah berdiri di tengah lobi apartemen. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Di putarnya kedua bola matanya. Tak ada seorang pun yang berkeliaran hanya ada seorang satpam yang berdiri di depan pintu masuk. Eris merogoh kantong celana jinsnya. Dia mengeluarkan handponenya. Dipencetnya nomor ibunya.
"Mama dimana?" tanya Eris dengan perasaan gugup
"Mama sudah di kamar apartement kita. Eris dimana sekarang?" tanya ibunya sedikit cemas.
"Eris di lobi. Eris kesana sekarang" ucap Eris sambil berjalan menuju lift.
Eris menekan tombol angka 11 dimana kamar apartemennya berada. Di dalam lift Eris masih memikirkan apa yang baru saja menimpanya. Apa yang terjadi? pertanyaan itu terus berputar di benaknya. Tiba-tiba pintu lift terbuka di lantai 9. Seorang cowok Korea masuk. Eris memalingkan matanya menuju cowok itu. Wa, cool batinya berkata. Matanya tak berkedip melihat cowok itu. Cowok itu berdiri di sampingnya. Eris menundukkan wajahnya. Suasana di dalam lift begitu sunyi sampai akhirnya cowok itu membuka mulutnya.
"What are you doing in men's toilet?" ucap cowok itu
Mendengar ucapan itu Eris menegakkan kepalanya terkejut. Wajahnya kembali memerah ketika mengingat kembali kejadian itu. Eris tak dapat berkata apa-apa. Tubuhnya kaku seperti batangan es. Pintu lift terbuka. Dilihatnya angka 11. Tanpa pikir panjang Eris melangkahkan kakinya keluar dari lift itu. Dengan seketika dia berada di depan pintu lift. Dilihatnya cowok itu sedikit tersenyum di balik pintu lift yang menutup perlahan.
Eris menekan bel apartemen dimana ayah dan ibunya sudah menunggu. Setelah pintu terbuka Eris masuk dengan tergesah-gesah seraya menutupi mukanya dengan jilbab warna merah yang semerah pipinya. Dia langsung menuju toilet. Dibasuhnya mukanya. Eris menatap wajahnya di kaca dan kembali kejadian itu muncul kembali di otaknya. Dibasuhnya kembali mukanya. Eris pun keluar dari toilet setelah sekitar 15 menit berkutat di dalamnya. Dia keluar dengan jilbab yang hampir basah keseluruhan karenan air yang membasuh wajahnya. Hal itu membuat kedua orang tuanya sentak kaget. Tak tahu apa yang membuat anaknya menjadi seperti ini di hari pertamanya di Korea. Raut muka kedua orangnya menunjukkan kekhawatiran terhadap Eris. Mereka membiarkan Eris masuk ke kamarnya dulu untuk menenangkan diri dan untuk berganti pakaian tentunya.
"Kita akan dinner di luar" ucap ayah Eris ketika gadis itu keluar dari kamarnya. Dengan wajah yang lusuh dan mengucek matanya yang belum sepenuhnya terbuka Eris berusaha menelaah perkataan ayahnya itu. Dinner? ucapnya pelan. Eris kembali ke kamarnya untuk mengambil tas sakunya. Dia memasukan dompet, handpone lengkap dengan headset serta sebuah digital camera sebagai benda yang mesti dibawa. Eris sangat suka memotret terutama pemandangan. Mengabadikan sesuatu yang indah membuatnya merasa telah memenuhi kebutuhan jiwanya. Eris menuju ke parkiran mobil dimana kedua orang tuanya telah menunggunya. Di bukanya pintu mobil dan masuk ke dalam mobil. "Ayo pa" ucapnya seraya memalingkan pandangannya menuju ke arah depan. Dan betapa kagetnya dia saat melihat bukan ayahnya yang duduk di bangku pengemudi. Dua pasang mata menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya.
"Sorry, I get in the wrong car" ucapnya dengan terbata. Eris keluar dari mobil itu. Dan seketika mereka tertawa melihat Eris yang berlari secepat kilat menuju mobil ayahnya.
"Ah, ada apa denganku?" keluhnya. Untuk kedua kalinya di hari yang sama dia mempermalukan dirinya sendiri. Eris serasa ingin melepaskan wajahnya dan melemparnya ke tong sampah. Betapa memalukan hal itu. Eris membuka pintu mobil dengan raut muka yang masih merah itu. Kedua orang tuanya hanya bisa saling berpandangan melihat Eris. Mereka beranjak dari tempat itu menuju ke tempat mereka akan dinner.
Selama di perjalanan tak sepatah katapun keluar dari mulut gadis itu. Kamera yang dibawanya pun menganggur di dalam tasnya. Tak satupun yang terekam dalam memory card kamera itu. Tiba-tiba hpnya berdering membuat lamunannya buyar. Eris membuka tas biru dongker miliknya. Dibukanya sms yang diterima alat komunikasi itu.
Mama pengen liat anak mama seneng malam ini, sepenggal kata yang tertulis di layar hpnya yang membuatnya tersenyum kecil.
"Gitu dong" ucap ayahnya yang sedari tadi sibuk mengemudikan mobil. Seketika keheningan terpecahkan oleh sedikit tawa kecil mereka bertiga.
Mereka pun tiba di restaurant dengan interior yang unik dan mengagumkan. Eris mulai mengeluarkan kameranya untuk mengabadikan malam itu yang membuatnya sejenak melupakan kejadian yang dia alami. Eris dan orang tuanya menikmati makan malam itu dengan dibarengi senda gurau diantara keluarga kecil itu. Mereka juga membicarakan tentang sekolah baru yang akan menjadi tempat Eris menimbah ilmu. 

***
Seusai makan mereka kembali ke apartemen. Eris begitu senang malam itu. Kedua orang tuanya langsung menuju kamar untuk beristirahat. Eris pun begitu. Tapi saat dia hendak memejamkan matanya Eris teringat perkataan ayahnya mengenai sekolah barunya. Dengan mata terbelalak pikirannya simpang siur. Eris terus memikirkan apa dia akan diterima, apakah dia akan mempunyai teman baik seperti Mia dan Rizka sahabatnya di Indonesia. Pertanyaan itu terus muncul dibenaknya yang membuatnya tidak bisa tidur. Tiba-tiba dia teringat sebuah taman kecil yang dilihatnya sewaktu mengelilingi apartemen. Eris pun melangkahkan kakinya keluar kamar sambil menarik sebuah jaket untuk melindunginya dari suhu dingin Korea. Eris menuruni lift. Tak seorangpun yang berlalu lalang karena sudah larut malam. Namun, tak sidikitpun rasa takut menghampirinya tidak seperti di rumahnya dulu yang dapat membuat bulu kuduknya berdiri kaku jika sudah larut malam sehingga Eris tak pernah berani keluar walaupun dia tidak bisa tidur. Eris menuju taman kecil yang dihiasi kerlap kerlip lampu nan cantik. Eris melihat ayunan yang berada di tengah taman itu. Dia pun duduk sambil berayun-ayun kecil. Eris menyalakan kamera yang sempat diambilnya sewaktu hendak keluar tadi. Eris melihat foto-foto dirinya dan sahabatnya. Halaman demi halaman dari foto itu dilihatnya yang membuatnya tersenyum. Melihat pemandangan yang begitu indah malam itu Eris pun memasang kuda-kuda untuk siap memotret. Saat Eris hendak memencet tombol capture tiba-tiba terekam seseorang dilayar kameranya yang membuatnya terkejut dan terjatuh dari ayunan itu. "Aw" Eris mengerang kesakitan. Kemudian uluran tangan orang yang membuatnya terkejut membantunya berdiri kembali.
"Sorry" ucap cowok itu
"Ah, you" ucap Eris terkejut melihat orang yang berada di hadapannya yang ternyata adalah cowok yang menjadi saksi kejadian memalukan yang dia alami hari ini. Cowok itu hanya tersenyum dan melangkahkan kakinya untuk duduk di ayunan itu. Eris berdiri membatu tak tau harus berbuat apa.
"I'm Min Woo" ucap cowok itu memperkenalkan dirinya seraya mengulurkan tangannya
Eris hanya mengangguk dan tak mengacuhkan uluran tangan Min Woo yang membuatnya harus menarik kembali tangannya.
"Why didn't you sit?" tanyanya pada Eris yang sedari tadi hanya berdiri disamping ayunan itu.
Eris pun duduk kembali di ayunan yang di dudukinya sebelumnya. Min Woo memalingkan pandangannya ke Eris yang hanya diam terpaku. Min Woo melihat Eris yang memakai jilbab itu sedikit terpanah. Dia belum pernah melihat orang dengan pakaian seperti itu dengan matanya sendiri. 
"Are you new here?" ucapnya untuk mencairkan suasana yang begitu sunyi
"Yes" jawab Eris singkat
"Ah. where are you from?" tanyanya kembali
"Jakarta-Indonesia" kembali Eris menjawab
"Indonesia is South East Asia, right?" ucapnya ragu
"Yes" jawab Eris singkat
Karena malam semakin larut Eris tidak melanjutkan percakapan itu. Eris beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju apartemen. Saat yang bersamaan Min Woo berteriak menanyakan namanya yang belum disebutkan Eris saat mereka mengobrol.
"Just call me Eris" jawab Eris yang hanya memalingkan wajahnya. Eris seketika sudah berada di depan lift yang siap menuju kamar apartemennya. Kali ini wajahnya sedikit memerah karena begitu senangnya dia malam ini. Eris membuka pintu dengan perlahan takut kalau orang tuanya terbangun. Dia pun membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang siap membawanya ke alam mimpi. Eris tidur dengan nyenyak dengan sesekali menarik selimutnya karena begitu dinginnya malam itu.